
green wedding
Blog walking ke webnya Mas Yuantara, photographer wedding dengan karya yang luar biasa. Pandangannya tentang pernikahan ramah lingkungan, silakan baca di sini. Saya setuju dengan dia, kecuali pada bagian pawang hujannya. Kalau yang punya hujan pengen hujan, ya biarlah hujan. Malah jadi berkesan.
pohon cinta elektronik
Mungkin Anda yang membaca blog ini bertanya: kapan saya dapat undangannya? Mohon maaf undangan Pohon Cinta hanya diperuntukkan bagi sesepuh saja. Anda yang telah terbiasa berinteraksi dengan internet tentu lebih terbuka pikirannya untuk menerima file elektronik sebagai undangan yang sama “resminya”.
yang luput dari pohon cinta

Satu hal yang luput dari perkiraan saya pada desain Pohon Cinta setelah disablon adalah bahwa tulisan yang seharusnya muncul di bagian belakang undangan tidak terbaca jelas. Tulisannya adalah “UNDANGAN INI DICETAK DI ATAS KERTAS DAUR ULANG”. Sayang sekali, padahal itu salah satu point penting yang ingin kami sampaikan dari desain Pohon Cinta.
Masalahnya mungkin bukan pada ukuran font yang terlalu kecil, tetapi pada karakter KDU yang tidak rata sehingga ada area-aera cekung tidak tersentuh tinta sablon. Jadi hurufnya bolong-bolong dan tidak terbaca jelas.
Meskipun demikian, semoga para penerima undangan tetap tahu bahwa kertas yang sedang mereka pegang adalah KDU. Setelah itu setidaknya muncul ide: kertas daur ulang untuk undangan? Kenapa tidak! Daripada kertas berlapis-lapis laminasi ditambah karton yang boros dan habis itu dibuang!
pohon cinta itu


Desain Pohon Cinta sudah di-approve oleh calon pengantin wanita (CPW) (kalau nggak approve silakan cari yang lain, … desainer yang lain maksudnya). Konsep tulisannya dari dia. Soal warna dengan mudah disepakati. Ukuran juga. Tinggal berangkat ke tempat nyablon di daerah Pengok. Kertasnya bawa sendiri, beli di toko kado. Sampai di Pak-nya (CPW suka menyebut Pak-nya sampai saya lupa nama agency sablonnya apa) kasih sedikit brief soal ukuran dan warna. Dan beberapa hari setelah itu desain Pohon Cinta sudah berbentuk undangan untuk diedarkan.
:pohon cinta

Awalnya saya sama sekali tidak berencana membuat desain undangan untuk diri sendiri (mosok yo sing nikah, yo sing ndesain undangan, yo nyetakke sisan). Rasanya lebih afdol saja kalau desain itu datang dari orang dekat yang secara spesial membuatkannya. Jadi semacam “design by … special for …”, rak kesannya istimewa gitu. Tapi apa boleh buat, sampai batas waktu yang cukup, teman dekat saya memang tidak menyanggupi untuk membuat desain seperti yang saya inginkan. Selain itu, posisi saya yang beda kota agak menyulitkan untuk brainstorming secara berkesinambungan.
Apalagi setelah itu calon pengantin wanita pun sudah mulai menanyakan desain undangan. Ya sudah, akhirnya saya harus bikin sendiri desain undangannya. Brief dari dia sangat singkat: bahannya pakai kertas daur ulang (KDU). OK. Daur ulang.
Pilihan cetak dengan sparasi atau offset (keduanya pakai mesin) langsung saya coret karena permukaan KDU tidak rata dan rawan patah kalau terlipat (percetakannya juga paling-paling nggak mau masukin KDU ke mesin cetaknya). Berarti pilihan yang mungkin adalah pakai teknik sablon. OK. Sablon.
Sablon satu warna! Itu yang langsung saya bayangkan. Desainnya mengikuti gaya batik cap di atas kain polos dengan pola satu warna. Terus apa tema dasarnya? Hmmm…pohon! Ide pakai KDU kan untuk menghemat pohon. Jadilah pohon untuk desain undangan pernikahan dengan nuansa cinta: Pohon Cinta!
