
Awalnya saya sama sekali tidak berencana membuat desain undangan untuk diri sendiri (mosok yo sing nikah, yo sing ndesain undangan, yo nyetakke sisan). Rasanya lebih afdol saja kalau desain itu datang dari orang dekat yang secara spesial membuatkannya. Jadi semacam “design by … special for …”, rak kesannya istimewa gitu. Tapi apa boleh buat, sampai batas waktu yang cukup, teman dekat saya memang tidak menyanggupi untuk membuat desain seperti yang saya inginkan. Selain itu, posisi saya yang beda kota agak menyulitkan untuk brainstorming secara berkesinambungan.
Apalagi setelah itu calon pengantin wanita pun sudah mulai menanyakan desain undangan. Ya sudah, akhirnya saya harus bikin sendiri desain undangannya. Brief dari dia sangat singkat: bahannya pakai kertas daur ulang (KDU). OK. Daur ulang.
Pilihan cetak dengan sparasi atau offset (keduanya pakai mesin) langsung saya coret karena permukaan KDU tidak rata dan rawan patah kalau terlipat (percetakannya juga paling-paling nggak mau masukin KDU ke mesin cetaknya). Berarti pilihan yang mungkin adalah pakai teknik sablon. OK. Sablon.
Sablon satu warna! Itu yang langsung saya bayangkan. Desainnya mengikuti gaya batik cap di atas kain polos dengan pola satu warna. Terus apa tema dasarnya? Hmmm…pohon! Ide pakai KDU kan untuk menghemat pohon. Jadilah pohon untuk desain undangan pernikahan dengan nuansa cinta: Pohon Cinta!